Selasa, 24 Juni 2014

Pengaruh Musik Terhadap Kecerdasan

Tulisan ini saya buat dalam rangka mengerjakan tugas sekolah agar dapat mengambil Kertas Hasil Siswa (KHS) atau semacam raport and this is itt


BAB I
PENDAHULUAN
I.1        Latar Belakang
Musik, semua orang menyukai musik dan semua orang pernah mendengarkan musik. Musik suatu hal yang tidak asing lagi ditelinga masyarakat dunia. Meskipun banyak masyarakat yang menganggap bahwa musik adalah hal yang sederhana. Tetapi, dibalik kesederhanaan musik, musik menyimpan berbagai macam misteri didalamnya yang mungkin sampai saat ini belum terpecahkan.
Masyarakat Indonesia terutama para remaja cenderung gemar mendengarkan musik. Karena musik dapat menghilangkan stress sehabis melakukan berbagai kegiatan. Remaja Indonesia menyukai berbagai macam genre musik dari yang ringan seperti genre pop sampai musik yang berat seperti heavy rock.
Masyarakat awam lebih cenderung menyukai musik yang bergenre pop. Karena musik genre pop memiliki komposisi lagu yang mudah untuk dinyanyikan dan liriknya mudah untuk diingat serta lebih enak didengar ditelinga.Sedangkan masyarakat-masyarakat yang tingkatnya lebih tinggi seperti bangsawan atau kalangan elit dan orang yang berjiwa musik tinggi lebih menyukai music bergenre klasik karena sentuhan seninya lebih murni ketimbang music bergendre lainnya.
Banyak orang yang berpendapat bahwa music klasik dapat sangat berpengaruh dalam  perkembangan Intelligence Quotient atau IQ dan Emotional Quotient atau EQ seseorang. Jadi, apabila kita telah membiasakan diri untuk mendengarkan music klasik dari kecil ataupun dari dalam kandungan maka, kita akan lebih cerdas emotional-nya serta intelligence-nya daripada anak yang tidak mendengarkan musik klasik dari kandungan.
Hal inilah yang salah satunya menyebabkan sebagian masyarakat kalangan atas memiliki kecerdasan diatas kecerdasan masyarakat awam. Dikarenakan menurut beberapa penelitian, musik ternyata dapat mempengaruhi tingkat pola pikir seseorang. Tetapi tidak semua genre musik, dapat meningkatkan kecerdasan seseorang hanya genre musik klasik yang memiliki kontribusi besar dalam hal meingkatkan kemampuan IQ dan EQ. Hal inilah yang biasanya disebut dengan Efek Mozart.
I.2       Rumusan Masalah
Berdasarkan dengan apa yang telah dikemukakan diatas penulis akan membahas beberapa hal tentang Efek Mozart, yaitu sebagai berikut :
1.    Apa pengertian musik?
2.    Apa yang dimaksud dengan Efek Mozart?
3.    Bagaimana sejarah dari Efek Mozart?
4.    Bagaimana Efek Mozart dapat meningkatkan kecerdasan dan kesehatan?
5.    Apakah music klasik memberi pengaruh terhadap hewan dan tumbuhan?
6.    Bagaimana Efek Mozart menurut ilmu kedokteran?
I.3       Tujuan
Dengan adanya penulisan karya tulis ini, diharapkan pembaca terutama para remaja dapat mengetahui apa fungsi positif yang dapat diambil dari kegiatan mendengarkan musik. Sehingga, mendengarkan musik tidak hanya menjadi sebuah hobi belaka atau penghilang stress. Tetapi juga dapat memberikan dampak positif besar lainnya, sepert dapat meningkatkan kecerdasan. Dan dengan tulisan ini, penulis berharap agar pembaca dapat mengetahui kepastian dari efek Mozart itu sendiri. Karena dalam penulisan ini, penulis akan memberikan beberapa hasil penelitian dan percobaan yang dilakukan oleh para ilmuwan.
I.4       Metode atau Teknik
Metode yang digunakan penulis dalam menulis karya tulis ini adalah dengan cara mencari bahan-bahan dari internet yang diperlukan untuk menunjang karya tulisnya. Kemudian mengumpulkan data-data tersebut lalu, memilah data tersebut untuk mempermudah penulis dalam memilih bahan mana yang cocok untuk dimasukkan kedalam karya tulisnya.
BAB II
PEMBAHASAN
II.1      Pengertian Musik
Musik adalah suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyian. Musik termasuk kedalam seni yang diciptakan, diperbaiki dan dipersembahkan kepada masyarakat sebagai hiburan. Musik merupakan fenomena yang sangat unik yang bisa dihasilkan oleh berbagai alat musik.
Musik juga dapat diartikan sebagai suatu bunyi yang diterima oleh individu dan berbeda-beda berdasarkan sejarah, lokasi, budaya dan selera seseorang. Musik merupakan suatu karya seni yang tercipta secara sengaja oleh seseorang atau kumpulan dan kemudian di sajikan sebagai music.
Musik menurut seorang filsuf Aristoteles, mempunyai kemampuan mendamaikan hati, mempunyai kemampuan untuk terapi dan menumbuhkan jiwa patriotisme. Seni musik juga mempunyai peranan yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat antara lain sebagai sarana pendidikan dan mata pencarian.
Musik memiliki beberapa jenis yang dibagi menjadi beberapa genre, diantaranya adalah jazz, rock, pop, klasik, dan lain sebagainya.
Musik Jazz adalah genre musik yang berasal dari  dengan akar-akar dari musik Afrika dan Eropa. Musik Rock  adalah genre musik populer yang akarnya berasal dari RnB, dan Country. Musik pop adalah sebuah genre musik yang berasal dari rock and roll. Musik klasik merupakan istilah luas yang biasanya mengarah pada musik yang berakar dari tradisi kesenian Barat, musik kristiani, dan musik orkestra. Musik klasik pada umumnya mempunyai keseimbangan antara empat unsur musik, yakni melodi, harmoni, irama (rhythm) dan warna suara (timbre).

II.2     Pengertian Efek Mozart
Istilah Mozart effect (efek Mozart) diciptakan pada tahun 1995 oleh para ilmuwan di Universitas California yang menemukan bahwa ternyata siswa mendapat nilai yang lebih baik pada tes IQ setelah mendengarkan musik Mozart. Para ilmuwan juga mencoba musik trance, musik minimalis, audio-books, dan instruksi relaksasi, namun tidak ada yang berpengaruh seperti musik Mozart.
Efek Mozart adalah istilah yang digunakan para peneliti untuk mengatakan manfaat atau efek positif dari musik klasik. Ini merupakan fenomena yang sangat misterius belakangan ini. Para ilmuwan banyak meneliti tentang mengapa hal sederhana seperti musik klasik ini dapat meningkatkan kecerdasan maupun kesehatan. Fenonema ini dinamakan efek Mozart dikarenakan sebagian besar karya dari Wolfgang Amadeus Mozart memberikan pengaruh positif yang sangat besar terhadap kecerdasan dan kesehatan seseorang.
Grace Sudargo, seorang musisi dan pendidik menyatakan bahwa dasar-dasar musik klasik secara umum berasal dari ritme denyut nadi manusia sehingga ia berperan besar dalam perkembangan otak, pembentukan jiwa, karakter, bahkan raga makhluk hidup.
II.3      Sejarah Efek Mozart
Sejarah efek Mozart di mulai sejak sebuah penelitian yang dilakukan  menunjukkan bahwa manfaat musik bagi kemampuan non-musikal sebenarnya sudah berkembang lebih dari setengah abad. Terapi musik modern berkembang pada akhir tahun 1940-an untuk mengobati kelelahan perang yang diderita oleh para prajurit se-usai Perang Dunia II.
Meski Army Surgeon General, Chief of Navy Bureau of Medicine and Surgery, dan Veterans Administration Chief of Medical Services mengatakan bahwa musik tidak dapat digolongkan sebagai terapi seperti halnya penicilin, kinine atau radiasi. Tetapi, musik tetap dimasukkan kedalam daftar obat-obatan Angkatan Darat. Bahkan sejumlah rumah sakit, klinik dan panti jompo di seluruh negeri membuat program menghadirkan pertunjukan musisi setempat.
Karena maraknya isu tentang teknik penyembuhan dengan music membuat Alfred Tomatis, dokter Prancis tertarik untuk melalukan sebuah penelitian. Sampai pada akhirnya Tomatis, melakukan gebrakan besar untuk penyembuhan dengan musik.Berdasarkan pengujian yang dilakukannya terhadap lebih dari 100.000 pasien di Listening Centers yaitu pusat pelatihan bagi penyandang cacat pendengaran dan orang yang terganggu dalam hal vokal dan pendengaran di Paris, Dibuktikan juga bahwa irama, melodi dan frekuensi tinggi dari komposisi musik Mozart merangsang dan menguatkan wilayah kreatif dan motivasi di otak.
Hal itu bersumber dari karya yang murni dan sederhana. Mozart tidak membuat jalinan yang memukau seperti jenius besar matematik, Bach. Dia juga tidak membangkitkan gelombang pasang emosi seperti Beethoven. Karyanya juga tidak membuat tubuh jadi rileks seperti musik rakyat, atau membuat tubuh bergoyang seperti lagu rock. Sebaliknya musik Mozart itu misterius, namun sekaligus mudah dipahami, tanpa ada trik yang membingungkan.
Pada tahun 1998, Don Campbell, seorang musisi, bersama Dr. Alfred Tomatis seorang psikolog, juga mengadakan penelitian untuk melihat efek positif dari beberapa jenis music. Hasilnya dituangkan pada buku mereka yang diterbikan di Indonesia dengan judul “Efek Mozart, Memanfaatkan Kekuatan Musik Untuk Mempertajam Pikiran, Meningkatkan kreativitas dan Menyehatkan Tubuh”. Banyak fakta yang diungkapkan di buku ini, bahwa musik klasik dapat meningkatkan fungsi otak dan intelektual manusia secara optimal. Meskipun Mozart memiliki ciri yang dekat dengan Haydn dan komponis lain sezamannya, Tomatis menegaskan dalam tulisan Pourquoi Mozart, “Dia memiliki efek, suatu pengaruh yang tidak dimiliki komponis lain. Mozart mempunyai kekuatan yang membebaskan, mengobati, dan bahkan menyembuhkan. Keampuhannya jauh melampaui apa yang kita amati di antara para pendahulu, rekan semasanya ataupun penggantinya”. Campbell dan Tomatis mengambil contoh karya Mozart yaitu Sonata in D major K 488 yang diyakini mempunyai efek rangsang yang paling baik untuk bayi.
Efek dari karya-karya Mozart selain tidak surut selama jangka lama, malah telah melampaui wilayah menikmati musik secara murni dan memilki efek penyembuhan ajaib. Mulai dari penyakit pikun hingga epilepsy, dari meningkatkan IQ hingga peningkatan produksi susu sapi, banyak laporan penelitian ilmu kedokteran kerap menyinggung musik dari Mozart paling memiliki efek penyembuhan.
Efek Mozart paling awal dipublikasikan pada tahun 1993 lewat otoritas majalah iptek. Percobaan dari dua orang professor Universitas California membuktikan bahwa dengan mendengarkan sonata Mozart selama 10 menit bisa menumbuhkan IQ. Namun, rupanya tidak hanya itu, bahkan musik klasik dapat meningkatkan Spiritual Quotient.
Bahkan, dalam buku Efek Mozart karya Campbell, dituliskan bahwa musik romantik (Schubert, Schuman Chopin, dan Tchaikovsky) dapat digunakan untuk meningkatkan kasih sayang dan simpati.
UNESCO yaitu lembaga kesehatan dunia juga telah menegaskan, pertama musik klasik adalah alat pendidikan. Kedua, musik adalah alat untuk mempertajam rasa inteletual manusia (intellect Einfullung).
II.4     Cara Efek Mozart dapat Mempengaruhi Otak?
Oleh para pakar, organ pengontrol pikiran, ucapan, dan emosi yaitu otak dibedakan atas dua belahan, kiri dan kanan, dengan fungsi berbeda. Otak kanan berkaitan dengan perkembangan artistik dan kreatif, perasaan, gaya bahasa, irama musik, imajinasi, lamunan, warna, pengenalan diri dan orang lain, sosialisasi, serta pengembangan kepribadian. Sementara otak kiri merupakan tempat untuk melakukan fungsi akademik seperti baca-tulis-hitung, daya ingat seperti nama, waktu, dan peristiwa, logika, dan analisis. Oleh karena itu, bila stimulasi dilakukan secara seimbang, diharapkan anak yang dilahirkan kelak tidak cuma memiliki kemampuan akademik yang baik tetapi juga kreatif. Apabila dia pintar matematika, dia juga mampu berbahasa, menulis, dan mengarang dengan baik.
Dengan adanya dasar seperti itu maka cara musik untuk mempengaruhi kecerdasan anak yaitu  dengan cara musik merangsang perkembangan sel-sel otak. Perangsangan ini sangat penting karena masa tumbuh kembang otak yang paling pesat terjadi sejak awal kehamilan hingga bayi berusia tiga tahun. musik mampu mempengaruhi struktur dan fungsi otak pada area auditori, sensorimotor dan area integrasi multimodal.
Penelitian Dr. Chapma juga menyatakan bahwa, jenis musik yang membuat seorang ibu merasa nyaman, bukan berarti memiliki efek yang sama bagi bayinya. Musik yang membuat nyaman bayi dalam kandungan adalah yang berirama teratur, misalnya musik yang mirip suara detak jantung ibu yang biasa didengarnya. Musik yang lembut seperti musik klasik cocok untuk bayi dalam kandungan.
Saran yang sesuai dengan penelitian ini adalah memperdengarkan jenis musik tertentu untuk bayi dalam kandungan, yaitu musik yang memiliki nada dan irama yang teratur seperti musik klasik, kemudian mengajak bayi dalam kandungan berbicara dengan berbagai nada dan intonasi yang sesuai, serta memainkan alat musik seperti gitar dan piano.
Di negara-negara dengan tradisi musik klasik yang maju, seperti di Jerman misalnya, pembelajaran tentang terapi “musik untuk bayi dalam kandungan” sudah sangat maju dan berkembang. Menurut berbagai hasil penelitian ilmiah dari sejumlah ahli seperti dokter syaraf, psikolog, dokter anak, dokter kebidanan, dan lain-lain menyimpulkan bahwa:
1.    Bayi dalam kandungan telah dapat mendengar secara jelas pada usia enam bulan, sehingga ia dapat menggerakkan tubuhnya sesuai dengan nada dan irama suara ibunya.
2.    Bayi dalam kandungan mampu merespon sedikit suara musik pada usia 4 / 5 bulan. Bayi dalam kandungan dapat bereaksi terhadap bunyi dan melodi dengan cara berbeda terhadap ritme atau irama musik.
3.    Bayi dalam kandungan sudah memiliki perasaan, kesadaran, dan daya ingat.
4.    Bayi dalam kandungan yang diberi rangsangan musik secara teratur ternyata mampu memacu kecerdasan bayi setelah lahir.
Sedangkan penelitian sebuah klinik di Slovakia menyatakan bahwa manfaat musik klasik untuk bayi bisa membuat bayi menjadi nyaman saat menjalani sebuah sesi pengobatan serta menjadikan bayi lebih cerdas dan lebih cepat merespon kemampuan berpikirnya.
Music klasik juga dapat digunakan untuk bayi dengan kelahiran premature. Pada bulan Januari tahun 2010, jurnal Pediatrics menerbitkan sebuah penelitian dari para ilmuwan Israel yang menunjukkan bahwa musik Mozart membantu proses kelahiran bayi prematur lebih cepat dengan berat badan normal. Para peneliti memutar sekitar 30 menit musik Mozart kepada 20 bayi prematur di Tel Aviv Sourasky Medical Center selama dua hari berturut-turut dan ternyata mereka memiliki berat badan yang lebih besar daripada bayi-bayi prematur lainnya yang tidak mendengarkan musik.
Para dokter mencatat bahwa bayi yang mendengarkan musik menjadi lebih tenang, sehingga mengurangi pengeluaran energi saat beristirahat (Resting Energy Expenditure atau REE). “Paparan musik Mozart secara signifikan menurunkan REE pada bayi prematur yang sehat. Kami berspekulasi bahwa efek musik terhadap REE mungkin menjelaskan peningkatan berat badan sebagai hasil dari efek Mozart,” menurut kesimpulan para peneliti dalam makalah mereka.
Berdasarkan analisa ilmuwan, efek Mozart berawal dari melodi dalam musik Mozart yang sesuai dengan model pergerakan otak manusia. Penelitian menunjukkan, musik klasik yang mengandung komposisi nada berfluktuasi antara nada tinggi dan nada rendah akan merangsang kuadran C pada otak. Sampai usia 4 tahun, kuadran B dan C pada otak anak-anak akan berkembang hingga 80 % dengan musik di sekelilingnya.
II.5      Efek Mozart Terhadap Hewan dan Tumbuhan?
Seperti yang telah dilaporkan dalam sebuah artikel pada tahun 2007 oleh media Spanyol, El Mundo, sapi di sebuah peternakan di Villanueva del Pardillo, Spanyol, menghasilkan 30 - 35 liter (sekitar 8-9 galon) susu per hari, dibandingkan dengan hanya 28 liter di pertanian lainnya. Menurut pemilik Hans-Pieter Sieber, ini adalah berkat Concerto for Flute and Harp in D karya Mozart, yang diperdengarkan kepada 700 ekor sapinya pada saat pemerahan. Ia juga mengklaim bahwa susunya memiliki rasa yang manis.
Menurut ABC News, biarawan di Brittany, Prancis, merupakan orang pertama yang menyuruh peternak untuk memperdengarkan lagu Mozart kepada para sapi, Dan kini, para peternak mulai dari Israel hingga Inggris semuanya memperdengarkan musik klasik bagi sapi mereka.
Penelitian lain pernah dilakukan oleh Frances Rauscher dan koleganya dari Universitas Wisconsin, AS. Mereka melakukan penelitian tentang hubungan antara kecerdasan dan musik. Para peneliti dari perguruan tinggi tersebut membagi dua kelompok tikus hamil.
 Kepada kelompok pertama diperdengarkan sejumlah sonata-sonata yang indah dari Mozart. Lalu, bayi-bayi tikus yang baru lahir masih tetap disuguhi musik yang sama sampai mereka berusia 2 bulan. Kelompok induk lainnya diperdengarkan musik minimalis Glass dan hal itu dilanjutkan sampai bayi-bayi tikus berusia 2 bulan. Rauscher dan kawan-kawannya kemudian menguji apakah “vitamin musik” yang diberikan sebagai makanan suplemen untuk dua kelompok tikus itu memberi dampak pada kecerdasan.
Mereka menguji tikus-tikus bayi itu untuk berlomba di jaringan jalan yang ruwet, jalan yang simpang siur, untuk mendapatkan hadiah makanan. Hasil uji coba sangat mengesankan. Bayi-bayi tikus yang mendapatkan “vitamin musik klasik” dari sonata-sonata Mozart bekerja dengan sempurna dan sedikit sekali melakukan kesalahan dan mereka membutuhkan waktu yang tidak terlalu lama untuk makanan sebagai hadiahnya. Sedangkan kelompok tikus yang mendapat vitamin musik minimalis dari Glass tampak tidak secerdas kelompok “klasik”. Demikian laporan para peneliti dalam jurnal ilmiah Neurological Research seperti yang dikutip oleh Reuter. Penelitian tersebut mengisyaratkan musik yang kompleks (musik klasik) telah meningkatkan daya belajar tikus terhadap ruang dan waktu (spatial-temporal).
Selain itu penelitian pada tahun 2010, dilakukan sebuah pabrik pengolahan limbah dekat Berlin, Jerman, mereka mengujicobakan sistem suara Mozart yang dibuat oleh perusahaan Jerman, Mundus. Musik karya Mozart “The Flute Enchanted” itu diperdengarkan bagi mikroba pemakan limbah.
Awalnya, pabrik hampir membatalkan percobaan setelah beberapa bulan. Namun setelah setahun, ketika tiba saatnya untuk membersihkan lumpur, pabrik mendapati bahwa mereka hanya mengangkut 6.000 meter kubik lumpur, bukan 7.000 meter kubik seperti yang biasa mereka lakukan.
Detlef Dalichow, spesialis dalam manajemen air limbah, mengatakan kepada surat kabar Märkische Allgemeine, “Limbah lumpur yang harus kami angkut pergi secara signifikan telah berkurang.”
Perusahaan diperkirakan mampu menghemat hingga 10.000 euro (sekitar 115 juta rupiah) untuk biaya pengangkutan lumpur. Mundus mengatakan bahwa dalam memutar musik Mozart, mereka berusaha menggunakan speaker besar sehingga tampak semirip mungkin dengan suara ruang konser.
Percobaan juga dilakukan kepada tumbuhan. Telah dilakukan percobaan memperdengarkan segala macam musik pada tanaman sejak 1970-an. Beberapa jenis musik mereka gemari, dan beberapa musik lainnya justru membuat mereka mati. Sedangkan musik Mozart merupakan salah satu musik favorit bagi tanaman.
Salah satu eksperimen pertama antara tanaman dan musik terjadi pada 1973 ketika sarjana Dorothy Retallack menggunakan ruang control bionic yang diputarkan 2 channel radio yang berbeda. Dalam ruang pertama, tanaman harus mendengarkan musik rock selama tiga jam sehari. Sedangkan di ruang lain, radio memperdengarkan music klasik selama tiga jam sehari.
Ternyata tanaman yang mendengarkan music klasik tumbuh lebih sehat, dan batang mereka mulai menekuk ke arah radio. Sebaliknya, tanaman yang mendengarkan musik rock, memiliki daun kecil dan bersandar jauh dari radio. Mereka tumbuh tinggi dan kurus, dan sebagian besar dari mereka mati setelah 16 hari.
Pada tahun 2001, demi mencari cara alami untuk menjaga tanaman anggurnya terbebas dari hama, pecinta musik Carlo Cignozzi mengatur speaker di sepanjang 24 hektar perkebunan anggur Tuscan, Il Paradiso di Frassina. Dia memutar berbagai musik klasik, termasuk Mozart, kepada tanaman-tanaman anggurnya 24 jam sehari, dan mendapati bahwa anggur-anggurnya tampak lebih cepat matang. Cignozzi mengatakan bahwa anggur yang berjarak paling dekat ke speaker lebih cepat matang, dan hal ini hanya bekerja dengan musik klasik saja, dan bukannya pop atau rock.
Pada tahun 2006, sebuah tim peneliti dari Universitas Florence melakukan penyelidikan lebih lanjut. Menurut profesor pertanian Stefano Mancuso, suara musik membuat anggur matang lebih cepat daripada mereka yang tidak terpapar musik. Musik juga memiliki efek positif pada pertumbuhan pohon anggur dan lebar daun per pohon anggur.
II.6     Efek Mozart Terhadap Ilmu Kedokteran
     Ternyata Efek Mozart tidak hanya dapat mencerdaskan kemampuan intelektual seseorang, tetapi Efek Mozart dapat memberikan pengaruh di bidang medis. Diantaranya adalah menyembuhkan beberapa penyakit yaitu Alzeimer, Fisiologi Jantung, Ansietas dan Perawatan Kanker.
Alzheimer adalah penyakit yang biasanya diderita oleh para lansia (lanjut usia) dan ditandai dengan kesulitan berbicara, berjalan, dan demensia,. Dengan kemunduran segala fungsi tubuh dan berkurangnya interaksi sosial, para penderita Alzheimer dapat mengalami penurunan kualitas hidup. Musik terbukti memperbaiki fisiologi tubuh mereka yang ditandai cukupnya partisipasi, senyuman, kontak mata, dan umpan balik verbal untuk menyatakan perasaan. Musik dapat menambah kualitas hidup dengan menolong penderita sehingga mempunyai perilaku sosial yang lebih baik. Musik diyakini memiliki kemampuan mempengaruhi emosi sesorang dan dapat membantu mengekspresikannya, namun dalam batas tertentu dan tidak lepas kendali.
Masih banyak lagi penelitian tentang efek musik terhadap Alzheimer dan kebanyakan mendapatkan hasil yang positif. Walaupun belum dapat diklaim bahwa musik dapat menyembuhkan Alzheimer secara total, namun terbukti bahwa musik dapat meningkatkan keadaan pasien secara fisik maupun sosial.
Penggunaan musik di rumah-rumah sakit masa kini mulai banyak, hal ini disebabkan efek musik yang menenangkan dan menyenangkan pasien, sehingga berakibat pada perbaikan kondisi kesehatan, khususnya jantung dan pembuluh darah. Informasi dalam bentuk musik diyakini dapat menguntungkan karena tidak mengganggu pekerjaan dibandingkan informasi verbal. Penelitian serupa juga dilakukan pada sekelompok mahasiswa yang menghadapi stres kognisi karena diharuskan presentasi oral. Tingkat ansietas, denyut jantung, dan tekanan darah sistolik meningkat tajam akibat stressor tersebut. Para mahasiswa ini diterapi dengan musik “Pachebel’s Canon in D Major” Terjadi penurunan ansietas yang berarti pada kelompok subjek dibandingkan kelompok kontrol dan detak jantung serta tekanan darah arteri kelompok ini turun, sementara pada kelompok kontrol naik.
Terapi musik telah banyak diterapkan untuk menurunkan ansietas, denyut jantung, dan tekanan darah. Meskipun tidak semua penelitian yang dilakukan tersebut mendapatkan hasil yang diharapkan, namun kebanyakan telah membuktikan bahwa musik memang baik bagi fisiologi jantung dan pembuluh darah. Lebih lanjut, terapi musik telah dianjurkan bersama bentuk terapi lain seperti yoga, meditasi, olahraga, dan diet sebagai terapi pelengkap bagi pasien penderita penyakit jantung.
Terapi komplementer dan alternatif, khususnya musik, mulai banyak digunakan disamping terapi mainstream (utama), hal ini bermanfaat untuk symptom management, mengurangi sakit dan mual karena kanker serta meningkatkan kualitas hidup. Beberapa teknik terapi musik yang dapat dilakukan termasuk teknik vocal, pendengaran, dan teknik instrumental. Teknik ini memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi perasaan dan emosi berkaitan dengan pengalaman rasa sakit. Sepuluh pasien Onkologi dewasa mengikuti 8 sesi terapi musik selama 10 minggu, terapi musik yang digunakan bersifat aktif dan pasif. Mood State dan kohesifitas dalam kelompok diukur sebelum dan sesudah sesi, dan terjadi peningkatan signifikan pada mood state, namun tidak pada kohefisitas kelompok.
Hal ini menyiratkan bahwa terapi musik dapat digunakan untuk membantu pasien penderita kanker, setidaknya secara psikologis. Terapi musik juga dimanfaatkan untuk menolong pasien kanker anak-anak. Walaupun tidak dapat menyembuhkan, setidaknya musik dapat menolong anak-anak tersebut sehingga memiliki kehidupan sosial yang lebih baik. 
BAB III
PENUTUP
III. 1  Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas, telah terbukti bahwa musik klasik khususnya karya Mozart dapat memberikan pengaruh positif. Efek Mozart adalah penemuan yang cukup sensasional di bidang musik. Pembelajaran musik jangka panjang serta interaksi aktif dengan musik akan menghasilkan dampak yang lebih berarti daripada hanya mendengar secara pasif. Kasus-kasus dan penelitian tentang terapi musik telah banyak dilakukan dan terbukti dapat menolong kondisi fisiologis, mental, dan sosial pasien. Penelitian lebih lanjut mengenai musik bekerja terhadap fisiologi tubuh manusia dan jenis musik yang dapat memberi hasil terbaik harus terus diusahakan di masa mendatang demi menjamin keberadaan musik sebagai terapi dalam dunia kedokteran.
Kita juga mengetahui bahwa ternyata Efek Mozart ini bukan hanyalah sekedar sugesti belaka untuk meningkatkan omset penjualan karya-karya Mozart. Mahalan music-musik klasik seperti karya Mozart dianjurkan untuk didengarkan bagi para ibu yang sedang mengandung.
Kini, masyarakat tidak perlu ragu untuk mencoba mendengarkan musik klasik dan memperdengarkan kepada janin yang dikandung serta kepada anak-anak didik di seluruh sekolah di mana saja. Apabila kurang menyukai music-musik klasik seperti Mozart, Bach, atau Beethoven, mulailah dengan lagu-lagu semi klasik seperti musik dari Richard Clayderman ataupun dari Andre Rieu.
III.2    Saran
Jadi, apabila anda merasa lelah dengan aktivitas sehari-hari anda, cobalah anda istirahat sejenak sambil mendengarkan music terutama music klasik. Karena mungkin dengan melakukan hal ini dapat membangkitkan kembalik semangat dan kekuatan anda dalam menempuh aktivitas yang berat.
Seperti yang dikatakan oleh Wulaningrum Wibisono, S.Psi ,”Jikalau Anda merasakan hari ini begitu berat, coba periksa lagi hidup Anda pada hari ini. Jangan-jangan Anda belum mendengarkan musik dan bernyanyi.”
DAFTAR PUSTAKA
·         http://id.wikipedia.org/wiki/Wolfgang_Amadeus_Mozart
Reaksi:
Categories:

2 komentar:

  1. ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬
    DAMN THIS COMMENT IS FANCY
    ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬

    BalasHapus
  2. Bagus banget makalahnya, lagu enchantednya enak banget :)

    BalasHapus