Rabu, 14 Agustus 2013

Senioritas dalam Pendidikan



Pendidikan dizaman sekarang sangatlah diutamakan. Karena dengan pendidikan yang maju dapat meningkatkan sumber daya manusia. Sehingga, dapat membantu dalam pembangunan negara. Jadi dapat dikatakan bahwa pembentukan kepribadian dan wawasan seseorang banyak dilakukan pada masa sekolah. Pada masa sekolah siswa benar-benar akan dituntut untuk menggunakan fasilitas sekolah dengan semaksimal mungkin sehingga siswa dapat mengembangkan kemampuannya dengan semaksimal mungkin.
Namun apa jadinya apabila tujuan awal adalah menjadi siswa yang baik malah di hambat oleh senior atau kakak kelas. Hal seperti ini sering disebut dengan senioritas. Senioritas itu sendiri bukan hal asing lagi bagi para pelajar, hal ini sering terjadi di Sekolah Menengah Atas (SMA) berasrama dan Universitas di Indonesia. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Senioritas sendiri memiliki arti keadaan lebih tinggi dalam pangkat, pengalaman dan usia, prioritas status atau tingkatan yang diperoleh dari umur atau lamanya bekerja. Senioritas sendiri dapat menimbulkan dampak, baik secara fisik maupun psikis
Senioritas biasanya memaksakan adik kelas untuk melakukan segala hal yang diinginkan oleh kakak kelas. Kakak kelas selalu mengatakan bahwa peraturan mereka dapat membuat diri adik kelas menjadi lebih baik. Dengan dalih seperti ini akhirnya kebanyakan senioritas dijalankan dengan tidak wajar, bahkan ada yang memakan korban. Adik kelas harus menerima nasib mereka sebagai junior meskipun mereka tidak salah sedikitpun, karena selalu ada peraturan seperti ini dalam senioritas “1. Senior selalu benar 2. Apabila senior salah maka kembali lagi ke peraturan pertama” .Hal-hal seperti ini seharusnya tidak selayaknya dilakukan hanya untuk senior ingin di segani.
Banyak opini yang berkata bahwa sebagai kakak kelas harus kejam dan galak sehingga disegani oleh adik kelas. Sebenarnya, opini semacam ini sangatlah salah karena sebenarnya jika kakak kelas berlaku baik dan berlaku wajar, maka adik kelas akan berlaku hormat dan segan dengan sendirinya. Sama seperti perkataan “Jika kau ingin di hormarti maka hormatilah orang lain”.  Sudah selayaknya kakak senior yang lebih berpengalaman dan lebih tua yang pemikirannya telah jauh lebih dewasa daripada adik juniornya memberikan contoh yang baik kepada juniornya. Jadi, jangan hanya sekedar membuat peraturan untuk ditaati oleh juniornya saja, sementara senior dapat dengan ‘seenaknya’ melanggar.
Senioritas biasanya paling banyak diterjadi pada saat tahun ajaran baru dimulai. Seperti saat MOS atau OSPEK. Kejadian yang sering terjadi pada masa ini biasanya adalah acara “Bentak-bentakan” dan berbagai macam penekanan psikis lainnya dilakukan oleh kakak angkatan. Secara tersirat usaha untuk mematikan kepribadian siswa-siswa didik baru sudah dilakukan dari awal secara perlahan-lahan.
Berbagai macam bentuk bentakan dan penekanan psikis terhadap siswa baru akan menimbulkan banyak efek buruk bagi siswa baru tersebut. Meskipun, tidak semua siswa baru merasa tertekan dengan situasi seperti ini. Bahkan, ada beberapa siswa baru yang merasa terbantu dengan senioritas. Tetapi tetap saja, lebih banyak yang merasa senioritas tetap hal yang melanggar hak asasi manusia.
Tekanan psikologis yang dilakukan senior memang menyebabkan para junior berprilaku sangat baik, taat dan disiplin. Tapi, saat tekanan psikologis itu dihentikan maka akan terjadi fenomena pegas. Fenomena pegas yaitu pada saat kita menekan pegas, maka dia akan menuruti tekanan kita, tetapi ketika kita melepas pegasnya maka dia akan bergerak melawan tekanan yang tadi kita berikan. Maksudnya, ketika kita masih ditekan oleh senior maka kita akan selalu berperikalu baik, taat dan disiplin. Tetapi ketika tekanan itu dihentikan (telah mejadi senior) maka kita dapat menjadi berperilaku kurang baik, tidak taat dan tidak disiplin.
Masalah lain yang biasanya ditimbulkan dari senioritas adalah munculnya dendam. Hal ini akan berdampak pada kehidupan social siswa. Karena merasa tidak terima diperlakukan “semena-mena” oleh senior maka sehabis masa pendidikan para junior kebanyakan tidak menyukai para seniornya. Hal ini juga berdampak pada junior di tahun berikutnya. Karena dendam tadi, tetapi tidak ada tempat untuk pelampiasan, maka adik angkatan yang tidak bersalah menjadi korban. Hal ini membuat senioritas aka nada disetiap tahunnya. Jika hal ini terus di lanjutkan, maka senioritas akan menjadi semacam tradisi di sebuah sekolah yang sejak awalnya menerapkan system ini.
Memang berbagai permasalahan diatas tidak menimpa seluruh siswa. Tetapi, perlakuan yang sama terhadap semua siswa yang memiliki kepribadian yang berbeda itulah yang menyebabkan efek senioritas menjadi buruk. Selain itu, biasanya senioritas banyak diselewengkan. Alih-alh melatih kedisiplinan, para senior malah menjalankan system ini hanya sekedar untuk bersenang-senang, seperti mecari kepuasan dengan semua ini.
Untuk mengatasi masalah senioritas adalah yang pertama kita memang harus kuat mental, kita tidak boleh menyerah hanya karena dibentak-bentak oleh senior. Jangan karena hanya takut dibentak-bentak oleh senior kita berniat untuk tidak sekolah maupun pindah sekolah. Ingat kata pepatah “semuanya akan indah pada waktunya” jadi mungkin dari semua kejadian ini akan ada hikmahnya bagi kita sendiri.
Yang kedua, kita sebisa mungkin menaati peraturan yang dibuat oleh senior selama peraturan mereka tidak diluar akal pikir manusia dan apabila kurang setuju dengan peraturan mereka sebisa mungkin kita berfikir kembali, mungkin peraturan mereka dapat mengubah diri kita menjadi lebih baik nantinya apabila sudah ‘terjun’ ke masyarakat
Ketiga, sebaiknya setelah kita menjadi senior. Kita meninjau kembali apa kegunaan dari kegiatan senioritas ini. Jangan sampai kita malah meneruskan tradisi yang tidak seharusnya untuk diteruskan. Lalu, diusahakan sebisa mungkin ketika kita menjadi senior, kita tetap menjadi disiplin dan taat seperti kita masih menjadi junior sehingga dapat menjadi contoh adik angkatan dan jangan sampai memiliki dendam.
Jadi intinya, senioritas memang dapat berakibat buruk terhadap psikologi dan kehidupan social siswa. Oleh karena itu harus adanya upaya-upaya tertentu untuk menghilangkan senioritas. Sebaiknya kita dapat melihat sekolah lain yang tidak menggunakan system senioritas tetapi tetap dapat menghasilkan siswa-siswa yang unggul dan disiplin. Mereka mampu menghasilkan siswa-siswa unggul dan disiplin, karena mereka telah megubah pola pengenalan terhadap hidup dengan lebih mengenalkan budaya, norma, dan semua aspek lainnya dengan dalih disiplin. Jika mereka saja berhasil, mengapa kita tidak?




Reaksi:
Categories: ,

0 komentar:

Poskan Komentar